Sabtu, 01 Februari 2014

an honest speech yet scary

The following speech was delivered by top of the class student Erica Goldson during the graduation ceremony at Coxsackie-Athens High School on June 25, 2010 
".....I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. 
But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I'm scared.
And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.
We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is special, so aren't we all deserving of something better of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still....."


that is so true. i mean, pendidikan di negara kita hanya menargetkan nilai tinggi dalam pelajaran. belajar hanya karna ngejar nilai akibatnya kreativitas yang penting jadi tidak terasah. sistem pendidikan seperti ini sebenarnya membuat kita tumbuh jadi anak "penurut" yang disuruh ngerjain ini itu (PR dan tugas) ketimbang jadi anak kreatif. saya tidak akan munafik karna jujur saja saya juga belajar itu untuk ngejar nilai. biasanya saya baru belajar jika ada ulangan saja oleh karena itu, setelah ulangan apa yang sudah yang pelajari akan terlupakan begitu saja. mungkin jika sistem pendidikan yang ada saat ini bukanlah sistem kejar nilai seperti yang selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah kita (murid) juga mungkin tidak akan merasa tertekan melainkan malah enjoy. ini mungkin saja karna jika sistem pendidikan saat ini itu seperti 'ya sudah anak-anak kalian pasti lelah ya habis ulangan pertemuan kemarin, hari ini free deh' pasti kita para murid jadi senang kan? daripada baru semenit masuk kelas udah 'yak. hari ini kita udah bab 5 ya! lingkaran blablabla'. 

karena, orang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses. sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.

Minggu, 17 November 2013

well.....

once upon a time, there was one man wrote an article. article about boys.
here is the article: 


Tulisan: Sebenarnya laki-laki.


anak laki-laki itu meskipun terlihat tegar,tapi sebenarnya gampang merasa kesepian dan rapuh hatinya suatu waktu.( kuncir kecil,2011 ) 
Hal ini terjadi pada sekian banyak pemuda yang konon begitu bahagia menjalani hidupnya disiang hari,tapi begitu rapuh malam harinya.Memandangi atap rumah dengan tatapan kosong atau memeluk guling erat-erat. 
Kau pernah lihat ayahmu yang ternyata begitu rapuh ketika ketiadaan ibumu, atau kepada seorang pecinta yang begitu gundah kehilangan kekasih hatinya. 
Laki-laki diciptakan untuk kesepian,kesepian sejak lahir.Sejak pertama kali ia mengenal perempuan,ibunya.Ia tidak pernah ingin berpisah.Keberadaan perempuan itu dimana-mana jauh lebih menenangkan dari pada kehadiran laki-laki. Ayahnya. 
Sejak pertama kali mengenal kehangatan perempuan tersebut,hingga sedewasa ini laki-laki sulit menghilangkan bayang-bayangnya.Sejak tahu bagaimana lembutnya tangan ibunya mengelus kepalanya atau bagaimana perhatianya ibunya ketika ia sakit. 
Laki-laki sejak itu pula ditakdirkan mudah tersentuh hatinya jika ada perempuan mana saja yang lemah dan butuh pertolongan.Ia bisa merasa menjadi laki-laki ketika ada seseorang yang bisa ia lindungi. 
Sejak itu pula,dia membuka diri untuk siapa saja yang bersedia ia lindungi,nyatanya tidak semua perempuan dunia ini percaya begitu saja. 
Kasihan sekali …
Dan sekalinya ada seseorang yang dengan senang hati bersedia memberikan seluruh jaminan keamanannya kepadanya, betapa bahagianya laki-laki tersebut. Lengkap sudah hidupnya,ia menjadi berguna,ia dipercaya.
Bukankah sangat sulit memberikan kepercayaan kita kepada orang lain sampai sejauh itu? apalagi untuk seorang perempuan.


Then, there was one girl read that article, and replied:


ruang angkasa: Sebenarnya Perempuan.

Saya akan bercerita tentang perempuan, sedikit saja.
  
Karena kami sendiri begitu kompleks, bahkan kami terkadang sering tidak tahu apa yang kami mau. Dan jika ada perempuan yang berteriak ‘tidaaak’ atas tulisan saya, saya paham, karena manusia diciptakan berbeda-beda.
Sebenarnya perempuan, adalah wanita yang mudah jatuh cinta. Bayangkan, kami akan dengan mudahnya jatuh cinta pada dia yang berada di rahim, padahal belum pernah melihatnya sama sekali. Karena kami adalah perasa, kami merasakan ada cinta yang begitu tulus, mengalir dalam darah, mengikuti detak jantung kami, dan keinginan berjuang bersama. 
Apalagi dengan dia yang sudah berada di hadapan kami, memberikan kenyamanan, menyediakan pundak, mengulurkan tangan memberikan bantuan, hingga tempat mengeluh dikala resah. Sssst, kami begitu mudah jatuh cinta.Karena setiap senyum yang diberikan, akan membuat kupu-kupu di perut kami berterbangan senang. Karena setiap pertolongan yang diberikan membuat aliran darah melaju cepat, memompa jantung tanpa jeda, membuat girang senang. Karena setiap keluh kesah yang diceritakan, menyisakan hangat dihati dan menghasilkan semburat merah di wajah. 
Sayangnya, kami akan lebih memilih diam, tidak mengatakannya. Karena kami takut, kami takut sekali kami tenggelam dalam asumsi yang berlebihan. Perempuan, senang sekali menarik benang merah dari setiap kejadian. Menghubung-hubungkannya dalam diam. Kemudian terisak dalam keheningan. Akhirnya banyak bertanya, ‘Benarkah perasaan ini?’ Hingga nanti berakhir lelah, kemudian kami memutuskan untuk menyerah.Jadi, salah kami tidak mudah percaya (lagi)?