Minggu, 17 November 2013

well.....

once upon a time, there was one man wrote an article. article about boys.
here is the article: 


Tulisan: Sebenarnya laki-laki.


anak laki-laki itu meskipun terlihat tegar,tapi sebenarnya gampang merasa kesepian dan rapuh hatinya suatu waktu.( kuncir kecil,2011 ) 
Hal ini terjadi pada sekian banyak pemuda yang konon begitu bahagia menjalani hidupnya disiang hari,tapi begitu rapuh malam harinya.Memandangi atap rumah dengan tatapan kosong atau memeluk guling erat-erat. 
Kau pernah lihat ayahmu yang ternyata begitu rapuh ketika ketiadaan ibumu, atau kepada seorang pecinta yang begitu gundah kehilangan kekasih hatinya. 
Laki-laki diciptakan untuk kesepian,kesepian sejak lahir.Sejak pertama kali ia mengenal perempuan,ibunya.Ia tidak pernah ingin berpisah.Keberadaan perempuan itu dimana-mana jauh lebih menenangkan dari pada kehadiran laki-laki. Ayahnya. 
Sejak pertama kali mengenal kehangatan perempuan tersebut,hingga sedewasa ini laki-laki sulit menghilangkan bayang-bayangnya.Sejak tahu bagaimana lembutnya tangan ibunya mengelus kepalanya atau bagaimana perhatianya ibunya ketika ia sakit. 
Laki-laki sejak itu pula ditakdirkan mudah tersentuh hatinya jika ada perempuan mana saja yang lemah dan butuh pertolongan.Ia bisa merasa menjadi laki-laki ketika ada seseorang yang bisa ia lindungi. 
Sejak itu pula,dia membuka diri untuk siapa saja yang bersedia ia lindungi,nyatanya tidak semua perempuan dunia ini percaya begitu saja. 
Kasihan sekali …
Dan sekalinya ada seseorang yang dengan senang hati bersedia memberikan seluruh jaminan keamanannya kepadanya, betapa bahagianya laki-laki tersebut. Lengkap sudah hidupnya,ia menjadi berguna,ia dipercaya.
Bukankah sangat sulit memberikan kepercayaan kita kepada orang lain sampai sejauh itu? apalagi untuk seorang perempuan.


Then, there was one girl read that article, and replied:


ruang angkasa: Sebenarnya Perempuan.

Saya akan bercerita tentang perempuan, sedikit saja.
  
Karena kami sendiri begitu kompleks, bahkan kami terkadang sering tidak tahu apa yang kami mau. Dan jika ada perempuan yang berteriak ‘tidaaak’ atas tulisan saya, saya paham, karena manusia diciptakan berbeda-beda.
Sebenarnya perempuan, adalah wanita yang mudah jatuh cinta. Bayangkan, kami akan dengan mudahnya jatuh cinta pada dia yang berada di rahim, padahal belum pernah melihatnya sama sekali. Karena kami adalah perasa, kami merasakan ada cinta yang begitu tulus, mengalir dalam darah, mengikuti detak jantung kami, dan keinginan berjuang bersama. 
Apalagi dengan dia yang sudah berada di hadapan kami, memberikan kenyamanan, menyediakan pundak, mengulurkan tangan memberikan bantuan, hingga tempat mengeluh dikala resah. Sssst, kami begitu mudah jatuh cinta.Karena setiap senyum yang diberikan, akan membuat kupu-kupu di perut kami berterbangan senang. Karena setiap pertolongan yang diberikan membuat aliran darah melaju cepat, memompa jantung tanpa jeda, membuat girang senang. Karena setiap keluh kesah yang diceritakan, menyisakan hangat dihati dan menghasilkan semburat merah di wajah. 
Sayangnya, kami akan lebih memilih diam, tidak mengatakannya. Karena kami takut, kami takut sekali kami tenggelam dalam asumsi yang berlebihan. Perempuan, senang sekali menarik benang merah dari setiap kejadian. Menghubung-hubungkannya dalam diam. Kemudian terisak dalam keheningan. Akhirnya banyak bertanya, ‘Benarkah perasaan ini?’ Hingga nanti berakhir lelah, kemudian kami memutuskan untuk menyerah.Jadi, salah kami tidak mudah percaya (lagi)?

Sabtu, 09 November 2013

doyan ngawang

"saya nggak tau saya kenapa, semacam stres ato depresi ato frustasi mungkin? saya juga nggak tau. saya nggak bisa bener-bener deskripsiin apa yang saya rasain sekarang. complicated lah. tapi serius rasanya hampa banget. asli. rasanya tuh ada yang ilang, tapi kalo ditanya -apaan yang ilang- jawabannya, saya juga nggak tau. rasanya saya lagi down, tapi ya nggak down, yaapa ya, semacam ngawang entahlah. saya rasanya tuh pengen marah sama diri sendiri, soalnya nggak becus ngelakuin apa-apa. rasanya tuh pengen teriak ke diri sendiri 'he kon iku opoo se, ngene ae gak isok' sumpah. rasanya semacam kecewa gitu sama diri sendiri. rasanya saya itu bukan apa yang saya harapkan. katanya sih -nggak semua harapan harus tercapai- tapi pernah nggak sih tau rasanya dikecewain sama diri sendiri? biasanya sih yang ngecewain orang lain. lah kalo udah diri sendiri kayak gini lain lagi ceritanya. entahlah saya juga bingung. sekolah makin gila, rasanya kayak luelah, cuape, mau berenti, ngga kuat. tapi I have no choice kalo nggak terus ngadepin idup. katanya - ya itulah hidup - well, jadi gini ta, life's cruel ya hahaha. at least, saya masih beruntung, alhamdulilah. kayaknya kejiwaan saya terganggu deh ._. masak ya saya gila? -_- halah gatau deh, doain aja saya kuat ngadepin idup....."

just read that in this blog and that post is hit me like a lot because it is totally right to describe how i feel lately. i want to share my weird feeling several weeks ago but i cant think a single word or many words that can describe my feeling. then i read that post and think that i am currently in feeling when nobody can understand me even myself. it feels so wrong, empty, and sometimes lonely. well, i like being alone but this alone feeling is kinda you are in crowded place but feeling alone. that alone. and empty. so pathetic, poor me. and oh i like the word "ngawang", that floating feeling haha. currently in love with "demen ngawang" words.



i thought, listening to music with post-rock genre can make me feel better but i completely wrong, because post-rock music make my feeling muccchh morreeeee "ngawang" than beforeee. uuuhhgggg out of topic, sorry for my bad english.

note for a better self